Apa kabar hati ?? Masihkah kau membiarkan guratan namaku di sudut ingatanmu? Meski hanya dalam balutan lusuh kenangan. Kau telah bisa memandang mataharimu setelah Dua tahun awan menggulung selaksa harapmu. Dan saatnya lah kita membuka mata dan menorehkan sketsa asa. Tutup matamu, Telah banyak yang terlewati tentang kita. Kuatkan hati meski sesekali yang terlihat hanya lembaran kisah yang berdebu. Badai itu mungkin telah reda dan kita pandangi arus yang kian tenang. engkaupun harusnya melabuhkan mimpi-mimpimu setelah topan berlalu. Apa kabar separoh napasku ? Masihkan kau rasakan pedih dadamu saat menyebut namaku ? Hanya empat purnama wajah kita bermandikan cahaya, berpelukan dalam telaga yang tak pernah membuat kita puas tuk minum didalamnya. dan selanjutnya kita terkapar dalam takdir yang menjauhkan raga yang menyatu. Menangis ? Ah… Sudah terlalu banyak yang kita alirkan untuk kata pengorbanan dan kesetiaan. Tuh semakin marah dengan takdir hanya membuat hati semakin terhujam. Kitapun membiarkan diri terus kebasahan hanya untuk menyucikan hati dengan keikhlasan. Cukuplah dua tahun itu membuka mata kita. Kita masih terlalu lemah dikalahkan waktu. Karena dalam untaian hari yang kusut itu kita sebenarnya membaca daun-daun ilmu tentang pengorbanan dan keikhlasan. Sebagaimana kamu yang merapuh setiap membaca puisiku yang meresap di aliran nadimu, akupun selalu rebah dalam ketidakberdayaanku bila mengingat airmata yang kau hadiahkan di ujung pertemuan itu. Lalu kemanakah hati kita kini ? Biarlah Kita mematikan rasa, membunuh hasrat dan mengatakan inilah yang sejati. Disaat kita memberikan hati yang terindah untuk jiwa yang terindah juga. Membiarkan waktu tuk menawar perihnya. Dan jangan lagi memandangku dengan tatapan itu. Aku tak ingin pertahanan dua tahun itu roboh dalam hitungan detik stiap kita berpandangan. Jangan biarkan luka itu terbuka dalam sehari. Relakanlah agar akupun rela melepaskan secara sempurna jiwaku. Dan aku bisa berkata dengan indah sebagaimana aku pertama mengenalmu cinta. Ikhlaskanlah aku menjauh wahai cinta. . . Aku adalah aku. Dan kamu adalah kamu. Jangan kita ulangi kesalahan yang sama. Biarkan kita saling berdo’a dalam diam dan saling menatap di balik gugusan awan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s